Dalam dunia politik India, peran dan warisan Jawaharlal Nehru kerap menjadi topik yang penuh perdebatan. Shashi Tharoor, seorang politisi dan penulis ternama, baru-baru ini memberikan pandangannya mengenai sosok pendiri demokrasi India ini. Terlepas dari kekagumannya, Tharoor mengakui bahwa Nehru memiliki kekurangan. Namun, kritik terbesarnya diarahkan pada pemerintah Modi saat ini, yang dianggapnya menyalahkan Nehru atas masalah-masalah kontemporer.
Kekaguman Tharoor terhadap Nehru
Shashi Tharoor menggambarkan dirinya sebagai penggemar yang tidak kritis terhadap Nehru, meskipun ia tidak mendukung semua pandangan yang dimiliki oleh Nehru. Nehru, dalam pandangan Tharoor, tetaplah figur yang penting dalam pembangunan fondasi demokrasi India. Tharoor menghargai usaha Nehru dalam memimpin negara ini melalui masa-masa awal yang penuh tantangan setelah merdeka dari penjajahan. Meski demikian, Tharoor tidak menutup mata terhadap kesalahan yang pernah dilakukan Nehru, terutama dalam kebijakan luar negeri.
Pertempuran dengan Tiongkok
Salah satu keputusan Nehru yang sering dikritik adalah kekalahan India dalam perang melawan Tiongkok pada tahun 1962. Tharoor mengakui bahwa hal ini adalah salah satu kesalahan signifikan Nehru, yang mempercayai pendekatan diplomatik lebih dari persiapan militer. Akan tetapi, Tharoor percaya bahwa melemparkan semua kesalahan ini pada Nehru untuk setiap masalah yang dihadapi India saat ini adalah tindakan yang tidak adil.
Kritik terhadap Pemerintah Modi
Menurut Tharoor, pemerintah saat ini terlalu sering menjadikan Nehru sebagai kambing hitam yang nyaman. Ia mengkritik Partai Bharatiya Janata (BJP) yang dipimpin oleh Narendra Modi, karena dianggap menggunakan nama Nehru untuk menutupi kekurangan dan ketidakmampuan dalam menghadapi tantangan pemerintah saat ini. Tharoor menekankan bahwa memusnahkan warisan Nehru bukanlah solusi bagi permasalahan bangsa yang semakin kompleks.
Pentingnya Perspektif Sejarah
Melalui analisisnya, Tharoor mengajak masyarakat untuk melihat sejarah dengan jernih dan objektif. Menurutnya, setiap pemimpin memiliki keterbatasan di masa mereka, dan sudah sewajarnya kita menilai mereka berdasarkan konteks saat itu, bukan dengan standar masa kini. Uchapan ini menjadi pengingat yang penting akan pentingnya memperlakukan warisan sejarah dengan adil dan cermat.
Menghargai Budaya Literasi India
Di luar politik, Tharoor selalu mengaitkan pentingnya literasi dan budaya membaca yang kuat dalam membentuk pemikiran kritis. Dalam komentarnya tentang keragaman literasi di Kerala, Tharoor mengenang perjalanan menulisnya sendiri dan bagaimana kebiasaan membaca berperan penting dalam membentuk wawasan dan sudut pandangnya. Ia mengajak bangsa untuk terus mendorong budaya membaca yang kaya dan variatif.
Kesimpulannya, Tharoor menegaskan bahwa perdebatan mengenai tokoh-tokoh sejarah harus dilakukan dengan pikiran terbuka dan seimbang. Memahami kesalahan dan pencapaian para pemimpin masa lalu akan membantu membangun masa depan yang lebih baik. Dengan mengapresiasi kerja keras Nehru dan secara bersamaan mengakui kesalahannya, kita dapat mendorong diskusi yang lebih konstruktif mengenai arah kebijakan yang diambil saat ini dan di masa mendatang.
