Omurice Jepang kini ramai di media sosial sebagai sajian telur bertekstur lembut yang diiris di atas nasi. Bentuknya oval, berwarna kuning cerah, dan menyimpan bagian telur yang hampir cair di dalam—penampilan yang membuatnya cepat menjadi tontonan favorit pengguna platform video singkat.

Fenomena ini menarik perhatian banyak orang, termasuk pembuat konten yang mendokumentasikan proses belajar membuatnya. Meski terlihat menggoda, omurice juga kerap disebut sebagai salah satu omelet paling sulit dibuat, karena tekstur telur yang unik dan presentasi saat diiris.
Apa itu omurice?
Omurice adalah hidangan Jepang yang memadukan telur dan nasi. Ciri khas versi yang viral adalah lapisan telur yang halus dan lembut membungkus nasi, lalu diiris sehingga cairan telur mengalir di atas nasinya. Tekstur telur tersebut sulit ditiru pada hidangan telur lain, dan presentasi membuka omelet di atas nasi menjadi bagian penting dari daya tariknya.
Perjalanan seorang pembuat konten
Salah satu orang yang mencuri perhatian dalam tren ini adalah Jeremy Ocampo, seorang insinyur perangkat lunak yang berbasis di London dan dikenal dengan nama akun OmuricePapi. Selama enam bulan terakhir ia merekam dan membagikan usahanya untuk menyempurnakan pembuatan omurice. Dalam kurun waktu tersebut akun-akunnya bertumbuh signifikan: ia mengumpulkan 110.000 pengikut di YouTube dan lebih dari 68.000 pengikut di Instagram.
Pengalaman pribadi mendorong Ocampo mencoba menu ini. “I’m Filipino, so I grew up eating rice and eggs every day, but it took going to Japan for the first time in 2025 to have my mind blown by omurice,” he says. “I was hooked: the presentation of slicing it open over your rice makes it so alluring, while you can’t replicate that texture of egg in any other dish. It’s so unique that when I got home, I decided to teach myself how to do it.”
Mengapa omurice jadi viral?
Salah satu alasan omurice banyak dibagikan adalah faktor visual dan element kejutan saat omelet dibelah; momen tersebut cocok untuk format video singkat. Selain itu, proses pembuatannya yang tampak menantang—sering kali melibatkan percobaan berulang dan penggunaan beberapa wajan—menambah daya tarik cerita di balik layar. Banyak penonton terpikat bukan hanya pada hasil akhirnya, tetapi juga pada usaha pembuat konten untuk mencapai tekstur telur yang tepat.
Tren ini juga memunculkan diskusi tentang seberapa sulit teknik memasak tertentu, sekaligus menggugah rasa ingin tahu pemirsa untuk mencoba di rumah. Namun, popularitasnya juga menunjukkan bahwa makanan sederhana—nasi dan telur—dapat dipoles menjadi sajian yang dramatis dan mengundang perhatian jika teknik serta presentasinya tepat.
Omurice yang viral menempatkan fokus pada estetika dan pengalaman makan: bukan sekadar makan nasi dan telur, tetapi momen membelah omelet yang menghasilkan tekstur lembut dan cair. Bagi pembuat konten seperti OmuricePapi, itulah tantangan yang layak dikejar dan dibagikan—sebuah perjalanan pembelajaran yang menarik perhatian ribuan pengikutnya.
Popularitas omurice menunjukkan bagaimana sebuah sajian sederhana bisa menjadi fenomena digital, asalkan disajikan dengan teknik yang memikat dan mampu menciptakan momen yang informatif sekaligus menghibur.
